Bebesen, 11 September 2025: Dalam nuansa yang dipenuhi keberkahan dan getaran kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, Dayah Ulumul Qur’an Yayasan Quba Bebesen kembali menggelar peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW dengan penuh kekhidmatan dan antusiasme. Tahun ini menjadi momentum bersejarah bagi yayasan, karena untuk pertama kalinya kegiatan akbar ini menghadirkan langsung Ulama Internasional dari Pakistan, Syekh Muhammad Yasinb Attari Al-Qadiri, yang juga menjabat sebagai Ketua Da’wate Islami Indonesia.
Acara yang berlangsung berhasil menghimpun lebih dari 1.450 jama’ah, terdiri dari wali santri, santriwan-santriwati, dewan guru, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari berbagai lembaga dan unsur pemerintahan. Ribuan wajah tampak larut dalam lantunan shalawat dan dzikir, menjadikan Aula Dayah Ulumul Qur’an sebagai samudra cinta Rasul yang bergelora.
Dalam tausiyah yang disampaikan secara langsung di hadapan ribuan jama’ah, Syekh Muhammad Yasin Attari Al-Qadiri menyampaikan pesan-pesan mendalam tentang urgensi meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menekankan pentingnya menjadikan Nabi sebagai model utama dalam membangun pribadi Muslim yang utuh baik dalam lisan, sikap, maupun visi hidup.
“Mencintai Nabi SAW bukan sekadar lisan, tetapi harus terwujud dalam akhlak, ibadah, dan kepedulian kita terhadap sesama. Siapa yang meneladani Rasulullah SAW, maka ia sedang menapaki jalan menuju surga,” tutur beliau dengan penuh semangat dan kelembutan, yang disambut pekikan takbir dari jama’ah.
Syekh Yasin hadir bersama Tgk. Syahkirin, S.Pd.I, selaku Ketua Da’wate Islami Cabang Aceh Tengah sekaligus dewan guru Dayah Ulumul Qur’an yang turut menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas sambutan hangat dan suksesnya acara ini.
Salah satu momen yang sangat berkesan adalah kata sambutan dari Ketua Harian Yayasan Quba Bebesen, Bapak Al Hadi, S.H.I., yang dengan lugas menyampaikan komitmen yayasan dalam menjadikan momen Maulid ini sebagai wahana pembinaan karakter Islami dan pendidikan rohani.
“Hari ini bukan hanya peringatan, tapi pembuktian. Bahwa cinta kita kepada Rasulullah SAW bukan sekadar seremonial, tapi nyata dalam usaha kita mendidik generasi Qur’ani yang berakhlak mulia. Kami tidak ingin santri hanya sekadar hafal Al-Qur’an, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai laku hidup dan jati diri,” ungkap Bapak Al Hadi dalam sambutannya yang menggugah.
Acara juga turut dihadiri oleh Bapak Bardan Sahidi, seorang tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota legislatif yang dikenal sangat peduli terhadap dunia pendidikan Islam di Aceh Tengah. Dalam interaksi dengan tamu dan santri, beliau menyampaikan apresiasinya atas kiprah Yayasan Quba dalam menjaga tradisi keilmuan Islam yang kuat dan berkelanjutan.
Peringatan Maulid dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan lantunan syair Maulid Diba’i oleh santriwan-santriwati yang telah berlatih khusus selama beberapa pekan. Suasana menjadi semakin haru ketika ribuan jama’ah ikut bershalawat bersama, merasakan kehadiran spiritual Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah mereka.
Tidak sedikit para hadirin yang meneteskan air mata saat mendengar kisah perjuangan Rasulullah SAW yang di sampaikan oleh penceramah. Semangat ukhuwah Islamiyah benar-benar terasa membuncah, menyatukan semua lapisan dalam satu niat: memuliakan kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW.
Acara Maulid ini juga menjadi wujud nyata kolaborasi antara pendidikan dan dakwah. Dayah Ulumul Qur’an Yayasan Quba Bebesen berhasil menghadirkan nilai-nilai tradisional keislaman dalam format yang penuh makna dan edukatif. Kehadiran ulama dari luar negeri menjadi penanda bahwa dayah ini tidak hanya berpikir lokal, tetapi telah bergerak secara global.
“Kita ingin Dayah Ulumul Qur’an tidak hanya menjadi pusat penghafal Al-Qur’an, tapi juga pusat peradaban Islam yang membentuk generasi yang tangguh secara iman, ilmu, dan akhlak,” tambah Bapak Al Hadi.
Dengan capaian ini, Dayah Ulumul Qur’an Yayasan Quba Bebesen sekali lagi menegaskan eksistensinya sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam terdepan di dataran tinggi Gayo. Dukungan wali santri, masyarakat, dan para tokoh menjadi energi besar untuk terus maju, tumbuh, dan berkembang dalam semangat mencetak generasi Qur’ani yang cinta Rasul dan cinta ilmu.
Pada akhirnya "Cinta Rasul bukan untuk dibicarakan, tetapi untuk ditanamkan. Dan hari ini, kita semua telah menjadi saksi bahwa cahaya itu menyinari Quba Bebesen."